Friday , 11 November 2016, 12:30:55 am
Home / Bisnis / 3 Orang (sangat) Kaya ini mengajarkan bahwa kekayaan bukan sumber kebahagiaan

3 Orang (sangat) Kaya ini mengajarkan bahwa kekayaan bukan sumber kebahagiaan

mencari kebahagiaan
Mencari Kebahagiaan
Saya yakin bukan sedikit lho diantara kita yang menganggap bahwa kekayaan adalah sumber utama kebahagiaan. Dan jika ditanya siapa yang tak ingin jadi kaya raya? Mayoritas pasti akan jawab ya.
Memang bahwa banyak orang yang tak bahagia karena tak punya kekayaan. Namun percayalah, setelah belajar dari orang – orang kaya berikut ini, semoga bisa membuat kita semua berfikir ulang betapa kekayaan bukan sumber utama kebahagiaan.

1. Jack Ma, Orang Terkaya di China lebih bahagia saat masih digaji Rp. 240 ribu / bulan

Orang terkaya di china tak bahagia
Jack Ma, orang terkaya di China via CNN Money
Siapa yang tak mengenal sosok Jack Ma. Orang terkaya di China yang menjadi CEO di Alibaba Group yang belakangan berhasil mencetak rekor dunia dengan Penjualan perdana sahamnya di Amerika serikat. Yap, berkat keberhasilannya menjadi CEO Alibaba Group, kini kekayaannya mencapai $ 26,5 Miliar (Rp. 312 Triliun). Apakah dia bahagia dengan kekayaannya?

“Saat pertama lulus kuliah, saya hanya digaji sebesar $ 20 / bulan (Rp. 240 ribu) dan itu adalah hari – hari yang menyenangkan,” dikutip dari CNN Money (23 September 2014).

“Setiap orang yang punya uang $1 Juta adalah sosok yang beruntung. Tapi jika anda punya $10 Juta, berarti anda dalam masalah dan cemas harus menginvestasikannya kemana dan merasakan tambahan ‘sakit kepala’,” Tambah Ma.

2. John Caudwell, menyatakan bahwa kebahagiaan tak bisa dibeli dengan kekayaan

John Caudweel tak bahagia
John Caudwell via FORBES
Sosok berikut ini mengubah pandangan saya mengenai uang ketika beberapa waktu lalu membaca tentangnya. Bagaimana bisa orang yang memiliki kekayaan sebesar $2,7 Miliar (Rp. 32,4 Triliun) dan memiliki dua rumah besar bak Istana, sebuah helikopter, dan beberapa mobil mewah hingga kapal pesiar ini ternyata tak membuatnya cukup bahagia.
Founder Phones 4U memang menikmati kekayaannya saat perusahaannya sukses besar. Namun dibalik kekayaannya, ada beberapa hal yang tak membuatnya bahagia.
Pertama, putra sulungnya Rufus mengidap Agoraphobia, semacam perasaan takut berlebihan terhadap ruang terbuka yang menjadikannya mengurung diri dikamar setiap hari.
Kedua, Istrinya Claire Johnson yang telah bersama dengannya selama 15 tahun mengalami perceraian.

“Kami memang telah bersama belasan tahun, namun akhirnya kami harus akhiri hubungan ini, bahwa keputusan ini memang yang terbaik,” ungkap Cadwell.

 
Ketiga, Ia pernah mengalami masa sulit harus memecat 6.000 Karyawannya di masa sulit dan hampir menjual perusahaannya ketika hampir bangkrut di Tahun 2006 sebelum bisa bangkit kembali.
Terakhir, putra John Caudwell ini mengalami problema fisik dan depresi takut kekayaan Ayahnya habis. (yang ini paling miris menurut saya, hmmm)

“Tidak punya uang mungkin menyedihkan, namun uang belum tentu dapat membahagiakan hidup kita,”. ungkap Caudwell.

3. Adolf Merckle, menabrakan dirinya dengan kereta hingga Tewas

Adolf Merckle via Forbes
Kita masih ingat di Bulan Januari 2009, krisis global menimpa banyak negara di Dunia. Tak terlewat Jerman pun ikut mengalaminya. Meski tak sehebat Krisis di Tahun 1999, dampak kerugiannya tak kecil.
Seperti krisis yang dialami Adolf Merckle hingga mengalami kerugian sebesar €400 Juta (Rp. 6 Triliun). Padahal kekayaan pribadinya sendiri mencapai €8,5 Miliar (Rp. 127,5 Triliun).
Sebelum melakukan bunuh diri hingga tewas dengan menabrakan diri dengan kereta yang berlalu didepan rumahnya, ia hanya meninggalkan tulisan “Aku minta maaf”. Padahal Merckle pernah menjadi salah satu dari 100 orang terkaya dunia versi Forbes.
 
Sejujurnya, krisis ekonomi memang masalah yang besar. Terlebih jika kita memiliki kekayaan yang sangat banyak. Kita akan berfikir keras cara menyelamatkan kekayaan kita, harus menginvestasikan kemana, dan nyatanya orang – orang terkaya banyak yang memasuki persaingan tak sehat.
***
Saya menulis tulisan ini bukan bertujuan untuk mengajarkan kita untuk tak mencari rezeki dan kekayaan, namun jangan pernah beranggapan bahwa sumber kebahagiaan adalah kekayaan. Faktor lainnya seperti rohani, sosial, kesehatan, keluarga, dan waktu luang adalah hal yang harus dipertimbangkan.
Jangan jadikan kekayaan sebagai target utama kita mencari kebahagiaan di dunia ini. Dan terakhir, semoga setelah kita tahu hal ini, kita menjadi pribadi yang lebih bersyukur. Aamiin..
Oleh : Najip Ali Munajat, mengutip dari CNN Money, DailyMail, Telegraph.co.uk

About najip